Minggu, 12 Juni 2011

Belajar Lupa ( part 1 )


Lupa sering dikonotasikan dengan sifat yang negatif. Biasanya  orang yang mudah lupa sering dianggap pikun.  Namun dalam tulisan ini justru mengajak kita untuk belajar lupa. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam diri kita adalah mengapa harus belajar lupa? Apa yang harus dilupa dan apa yang tak boleh dilupakan?

Apa yang harus kita lupakan? Belajar lupa atas kata-kata yang menyakitkan yang pernah ditumpahkan kepada kita baik dalam kondisi disengaja ataupun tidak disengaja, kata-kata dan sikap yang melukai hati yang bersifat untuk menggembleng pertumbuhan jiwa kita maupun kata-kata dan sikap penghinaan, kata-kata yang kasar dan menusuk lubuk hati yang terdalam. Lalu apa yang tak boleh dilupakan? Budi kebajikan LAOMU, Buddha Maitreya, Shi Zhun Shi Mu, para sesepuh dan pandita, orang-orang yang ada di sekitar kita, misi dan tanggung jawab yang harus diemban. Namun kebanyakan dari kita sering mengingat apa yang harus dilupakan dan melupakan apa yang harus dingat. Karena itu ternyata belajar lupa untuk hal yang satu ini ternyata tak mudah.

Ibarat luka yang sudah berdarah, kesakitan yang amat sangat, bahkan bila telah mencapai klimaks akan berakibat pada kebencian dan dendam yang tidak akan pernah putus kalau tidak diputuskan. Apalagi jika yang mencaci maki, yang melukai hati dengan kata-kata yang menyakitkan adalah orang yang dekat dengan kehidupan kita, tentu rasa sakit di hati menjadi berlipat. Lalu bagaimana proses untuk lupa bekerja dan memberikan efek yang efektif? Bagaimana bisa? Apakah bisa? Tentu BISA!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar